Home > Sulaiman Marbun > Membangun desa, apakah berarti mengubah desa layaknya seperti kota ?

Membangun desa, apakah berarti mengubah desa layaknya seperti kota ?

Sudah puluhan tahun lalu kita mendengar pencanangan membangun desa, dengan berbagai cara upaya dilakukan pemerintah seperti program ABRI masuk Desa, Bidan Desa, Guru Desa dan yang baru-baru ini muncul adalah dana desa. Tetapi sejatinya bagaimanakah pembangunan desa yang kita harapkan ? Apakah dengan perubahan desa yang menjadi penuh hiruk pikuk seperti kota ? Belum lagi kita sering mendengar program desa tertinggal, permasalahan membangun desa ini akhirnyapun memiliki kompleksitas yang cukup tinggi.

Memang saya tidak terlibat secara langsung dalam program pembangunan desa yang saat ini sangat digalakkan pemerintah,tapi saya cukup melihat beberapa postingan yang disebutkan sebagai hasil dari program ini, dan menurut saya hal tersebut bukanlah sebuah hasil, karena sampai saat ini goal atau hasil akhir dari program ini masih sangat mengambang, dan justru yang terlihat adalah program ini hanya sebagai program penggembira atau jika dilihat dalam sebuah pertandingan football amerika hanya sebatas pemandu sorak saja.

Saya adalah orang yang sangat mendukung program pembangunan desa, tetapi alangkah baiknya jika program ini tidak seperti yang saya sampaikan diatas yakni hanya sebagai program penggembira, sampai sejauh ini sebenarnya tidak hanya program desa ini yang menjadi program penggembira saja, hampir seluruh program pemerintah ini hanya sebagai program pemerintah, mulai dari pendidikan, ekonomi, wisata, sosial budaya dan yang lainnya.

Mengapa saya mengatakan program desa ini sebagai program penggembira saja dan yang lainnya juga ? karena memang kebanyakan program ini hanya untuk mencoba menghabiskan dana saja, namun tidak melakukan penggalian potensi dari masyarakat atau manusianya. Dimana hal yang terpenting menurut saya saat ini penggalian potensi yang dimiliki orang per orang, dengan demikian kita akan semakin mampu untuk bersaing di dunia kerja, usaha/bisnis.

Salah satu cara yang dapat kita lakukan untuk menggali potensi orang per orangan ini salah satunya dengan kompetisi yang kompetitif disetiap bidangnya, mulai dari bidang sains, politik, jurnalis, teknologi maupun olahraga. Dengan demikian kita akan selalu menghasilkan bibit potensi yang berkesinambungan secara turun temurun.

Jika melihat kebanyakan yang terjadi di negeri kita ini, potensi seseorang itu akan muncul disaat telah berusia 30 tahun, hal ini juga disebabkan karena tuntutan hidup berkeluarga, anak sudah mulai masuk sekolah/PAUD. Sehingga orang tua akan mengeluarkan segala kemampuan yang dimilikinya untuk dapat bekerja, alhasil tentunya kemampuan itu akan sangat pas-pasan yang menyebabkan persaingannya di dunia kerja semakin sulit.

Bagaimana jika potensi tersebut sudah tergali sejak usia dini ? Di usia yang 12 tahun potensi seseorang sudah terlihat pada sisi yang dikehendakinya mungkin sains, politik, militer, teknologi atau olahraga. Dan potensi itu akan tentunya akan terjaga sampai masa tuanya kelak

Hal inilah yang belum saya lihat pada pembangunan dengan yang dicanangkan pemerintah, melalui  program dana desa, seharusnya dana desa ini akan lebih diprioritaskan kepada anak masa kini, bukan lebih ke arah pembangunan jalanan, penyediaan fasilitas umum dan sejenisnya. Mungkin pembangunan fasilitas di sekolah -sekolah dengan meningkatkan mutu kualitas si anak, dengan pembangunan sarana olahraga, sarana bidang musik, sarana laboratorium, sarana jurnalis sekolah dan lain sebagainya.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: