Home > My Review, Olahraga, Sepakbola > Saatnya Sepakbola Indonesia Bernuansa Bisnis Bukan Politik Lagi

Saatnya Sepakbola Indonesia Bernuansa Bisnis Bukan Politik Lagi

Kekalahan telak dialami Timnas Indonesia U-22 saat menjamu Timnas Malaysia Selection pada laga ujicoba yang berlangsung di Gelora Bung Karno, Jumat (27/7/2012). Malaysia Selection yang diperkuat sebagian para pemain seniornya tersebut membungkam pasukan Aji Santosa dengan skor telak 6-0. Ini tentunya menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi pengurus PSSI dan tentunya bagi kita pecinta sepakbola nasional.

Carut-marut kepengurusan PSSI dapat kita pastikan sebagai salah satu faktor kemunduran prestasi sepakbola nasional yang terjadi saat ini. Diawali kepemimpinan Nurdin Halid Cs yang dinilai sangat sarat bernuansa politik, Jhohar Arifin Cs tetap belum mampu menghilangkan nuansa politik tersebut dari kancah sepakbola nasional.

Dualisme Liga yang berjalan yakni IPL dan ISL juga menuai permasalahan untuk klub-klub yang terdaftar di PSSI, kalau dulu kita mengenal PSMS Medan, maka saat ini menjadi timbul istilah baru PSMS IPL atau PSMS ISL. Secara tidak langsung sepakbola juga kini menjadi ajang untuk memecah belah kelompok masyarakat di negara ini.

Pemain yang berhak memperkuat Timnas juga menjadi perdebatan, apakah menggunakan pemain yang berlaga di IPL atau pemain yang berlaga di ISL, semuanya ini menjadikan sepakbola tidak lagi suatu olahraga yang sebagaimana mestinya dimainkan disebuah lapangan, melainkan sepakbola saat ini dijadikan sebagai permainan politik, dan tentunya sebagai tempat untuk mencari keuntungan pribadi bagi orang-orang tertentu.

Jika kita melihat bagaimana sepakbola di luar negeri, seperti negara-negara Eropa atau juga Amerika, sangat-sangat jelas sepakbola tersebut dijalankan dengan nuansa bisnis, di Asia juga seperti negara China yang akhir-akhir ini sangat getol untuk membangun sepakbola negara mereka dengan mendatangkan pemain-pemain bertaraf internasional.

Sudah saatnya PSSI bercermin demi kemajuan sepakbola nasional kita, kekalahan yang dialami para pasukan Garuda Muda saat menjamu Timnas Malaysia Selection telah membuat rapor PSSI semakin merah, dan untuk memperbaikinya harus dilakukan revolusi dalam pola pikir para pengurus PSSI dan juga revolusi dalam AD/ART PSSI.

Revolusi dalam pola pikir yang saya maksud disini adalah, bahwa sepakbola itu adalah murni sebuah bisnis yang sangat menjanjikan dan cukup besar keuntungannya, bukan seperti saat ini yaitu berusaha menjadi pengurus PSSI agar dapat lebih dekat lagi kepada para elit-elit politik di negara ini.

Sepakbola bukan menjadi suatu tempat untuk mempromosikan diri, agar lebih dikenal para politikus-politikus di negara ini, iya kalau politikusnya mempunyai prinsip untuk maju, yang ada yang didekati malah politikus-politikus yang ingin menjadikan negara ini sebagai negara perbudakan meskipun hanya dapat kita lihat dengan kasat mata.

Dan yang pastinya sepakbola bukan lokasi untuk pencitraan bagi para elit-elit politik negara ini, akan tetapi sepakbola lokasi untuk pencitraan para pemain bola dengan menunjukkan skill atau kemampuannya sehingga dari sana dia akan mendapatkan suatu kehormatan ataupun penghasilan.

Memang sah-sah saja seseorang peduli dengan sepakbola, tapi kepedulian itu harus ditunjukkan demi perwujudan sepakbola dapat menjadi suatu lapangan pekerjaan utama bagi masyarakat kita. Dan begitu banyak peluang lapangan pekerjaan yang akan dapat terbuka jika sepakbola mampu dimobilisasi dengan baik.

Ibarat sebuah komputer yang terserang virus, PSSI seharusnya sudah di install ulang secara keseluruhan tanpa meninggalkan sedikitpun dari apa yang ada saat ini.

Menurut saya tidak masalah PSSI tidak memiliki Liga dengan kasta tertinggi yang bergulir, demi pencapaian sepakbola yang lebih bagus baik dari segi manajemen, prestasi nasional maupun internasional.

PT. Liga Indonesia sebagai lembaga tertinggi penyelenggara kompetisi sepakbola di negara ini harus memiliki komitmen atas keputusan yang dimiliki, tidak berat sebelah dalam mengambil keputusan karena salah satu klub tersebut memiliki sejarah tersendiri di kancah sepakbola nasional.

Setiap klub harus mampu berdiri sendiri tanpa dibantu dana dari APBD lagi, memiliki manajemen tersendiri sehingga apa yang terjadi belakangan ini, banyak pemain yang tidak mendapatkan gaji dari klub yang mereka bela. Jika seperti ini kepada siapa para pemain tersebut akan mengadu ? mereka tidak mampu menuntut kepada Dinas Tenaga Kerja karena hal tersebut bukan kewenangan mereka melainkan kewenangan dari Pemko atau Pemkab dimana klub tersebut bernaung.

Saya pernah dilarang orang tua saya untuk menjadi pemain bola, karena menjadi pemain bola di Indonesia tidak begitu menjanjikan, berbeda dengan pemain-pemain bola di luar negeri.

Kedewasaan suatu negara dalam sepakbola sebenarnya dapat kita lihat dari bagaimana di negara tersebut memiliki perputaran ekonomi yang tinggi dalam dunia sepakbola.

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: